
Dalam mendidik anak utamanya bagi para orang tua yang mempunyai buah
hati yang masih kecil, pasti akan mengalami dan mengambil pelajaran bahwa keteladanan
adalah cara yang sangat efektif dalam mendidik anak. Akan tetapi perlu kita ketahui
juga, bahwa sikap dan perilaku kita yang menjadi teladan bagi anak-anak juga butuh penjelasan, arahan dan
pemahaman. Sangat penting bagi orang tua
untuk memberikan penjelasan alasan dari setiap sikap dan tindakan yang dilakukan.
Mengapa harus begitu, mengapa begini, mengapa ini boleh
dilakukan dan mengapa itu tidak boleh dilakukan, dsb. Anak-anak biasanya
sangat aktif bertanya tentang apa-apa yang kita lakukan, bahkan karena
keaktifannya dalam bertanya terkadang
membuat orang tua tidak cukup sabar dalam menjawab berbagai pertanyaan
putera-puteri kecilnya yang terkadang bertubi-tubi pertanyaannya.
Dampaknya, kondisi seperti
ini bila anak tidak terlayani dengan baik dalam menjawab setiap
pertanyaan yang dilontarkan, maka amat memungkinkan akan mematikan rasa
keingintahuan anak yang besar.
Apabila keteladanan tanpa
dipahamkan kepada anak-anak, sama halnya dengan kebaikan yang tidak
"diturunkan". Sehingga, orang tua akan
lebih dominan dan sering menjadi "pemeran utama". Sedangkan bagi
anak-anak yang tidak mendapatkan transformasi keteladanan dari orang
tuanya, hanya sebagai figuran
yang lama-lama tersisihkan perannya, karena merasa sikap dan
perilakunya berbeda.
Contoh yang biasa terjadi pada
keluarga kita, mungkin karena atas dasar
sayang, mungkin juga karena atas dasar tidak tega, mungkin juga karena
orang tua
merasa "masih bisa dan kuat", dsb. Misalnya: ada orang tua yang rajin
shalat, tetapi anaknya sengaja tidak dibangunkan untuk sholat subuh,
khawatir mengganggu tidur sang anak. Contoh lain misalnya ada seorang
ibu
yang pintar memasak, tetapi dia tidak mau memberikan kesempatan anak
untuk mempunyai kemampuan yang sama. Sikap seperti ini biasanya karena
khawatir
hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan sang ibu, orang tua
kadang menuntut kesempurnaan dari anaknya.
Hikmah dari sedikit contoh diatas, hal
seperti ini yang dinamakan "
kebaikan yang menjerumuskan."
Sikap dan perilaku orang tua sudah bisa menjadi teladan, namun tidak
diberikan kepada anak-anaknya untuk belajar dan meniru keteladanan yang
dilakukan. Sehingga menghasilkan orang tua baik, anaknya belum tentu
baik juga. Orang tua dari contoh diatas memang orang
tua yang baik, namun belum cukup ilmu. Meskipun bisa saja berpendidikan
tinggi, pengetahuan agamanya banyak, tetapi belum cukup ilmu tentang
mendidik anak-anak mereka. Biasa disebut ilmu parenting.
Ternyata menjadi baik untuk diri
sendiri saja tidak cukup. Sebagai orang tua, jadilah yang mampu
mentransfer teladan
kebaikan kepada anak-anak kita. Masih bingung bagaimana caranya mendidik
anak yang baik?, itu tanda ilmu kita masih kurang dan perlu
ditingkatkan. Pelajari dan gali ilmu tentang
pengasuhan dan mendidik anak (PARENTING) sehingga keteladan kita
menghasilkan jejak yang nyata.
"
Janganlah engkau meninggalkan GENERASI yang LEMAH di belakangmu."
SILAHKAN LIKE/SHARE ARTIKEL INI: